Navigation

Home

About IDP Norway

Vision and Mission

Field of Work

Country Experience

Organisational Structure

Publications

• Compendia

Links

Contact

EENET Asia

ILFE Toolkit: Afghanistan

ILFE Toolkit: Indonesia

EENET asia Newsletters : Edisi 9

Partisipasi Siswa dalam Sekolah Manajemen di Pakistan

Roudaba Shuja

Saya adalah kepala sekolah di sekolah putri yang menawarkan kursus pelajaran bagi kelas 11 sd 14 dimana 2 tahun terakhir adalah program sarjana. Lembaga saya berada di bawah Direktorat Pendidikan Federal yang merupakan salah satu rekan dari IDP Norway dan Sightsavers dalam menjalankan sebuah program rintisan Pendidikan Inklusif dan Ramah-Anak. Bekerja dengan tim dari Norwegia saya mengetahui bahwa peran serta mahasiswa dari lembaga pendidikan tinggi di Norwegia sangat kuat bahkan mereka menjadi bagian dari panel yang merekomendasikan pengangkatan anggota fakultas. Selama 30 tahun pengalaman saya mengajar, saya tidak pernah bertemu sebuah kasus dimana mahasiswa duduk bersama dengan para guru dalam satu lembaga. Para guru dalam sistem pendidikan kami terbiasa memerintah, memberikan kuliah, membimbing mahasiswa tapi hampir tidak pernah meminta saran nasehat, atau opini dari mahasiswa. Oleh karena itu informasi yang dibagikan oleh teman-teman Norwegia membuat saya merenungkan tentang keuntungan dan tantangan yang terdapat dalam ide tersebut dan akhirnya saya memutuskan untuk mencobanya sendiri.

Selama perdebatan, kegiatan menyanyi, drama, quiz dan kompetisi olahraga yang diadakan antar kelas, saya mengajak dua anggota dari dewan mahasiswa untuk duduk bersama dengan anggota fakultas membentuk sebuah tim juri untuk menentukan dan mengumumkan pemenang dari juara pertama, kedua dan ketiga. Itu sama mengejutkannya baik bagi para mahasiswa dan para guru; sementara untuk mantan mahasiswa adalah sebuah kejutan yang menyenangkan. Para guru tidak terlalu senang dengan ide ini, sekalipun penjelasan saya bahwa langkah ini tidak untuk melemahkan kewenangan mereka tapi sebagai pemberdayaan siswa kami untuk bertanggungjawab. Secara bertahap, setelah beberapa kejadian, para mahasiswa dan guru menjadi terbiasa dengan ide itu dan saya diberitahu bahwa para mahasiswa sangat bangga dengan posisi tinggi mereka dan para guru merasa lega bahwa para mahasiswa tidak lagi menyalahkan mereka untuk membuat keputusan yang bias.

Terdorong oleh langkah tersebut, saya berpikir untuk mengambil langkah yang lebih berani. Saya mengadakan rapat dengan para staf dan memunculkan ide bahwa untuk meningkatkan diri kita dan melancarkan perkembangan profesional kami menjadi lebih baik apabila kita mengundang umpan balik dari para mahasiswa, karena hasil tahunan tidak cukup untuk menunjukkan kinerja kami di dalam kelas. Sebenarnya, ketua diminta untuk mengisi Laporan Tahunan Rahasia (ACR) dari setiap guru mengenai presentase kelulusan dalam hasil tahunan. Gagasan ini sangat meresahkan para guru sehingga mereka memprotes secara terbuka dan selanjutnya mengatakan bahwa langkah ini tidak lebih dari sebuah tindakan memata-matai mereka. Bagi sebuah sistem dimana para guru menutup pintu setelah memasuki ruang kelas dan tidak ada yang melihat apa yang terjadi antara guru dan murid mereka, pemikiran ini agak sedikit berlebihan. Saya kemudian harus melangkah mundur. Tapi saya berhasil membuat mereka menerima gagasan untuk membuka pintu kelas mereka dan memperbolehkan rekan dan atau ketua mereka untuk diam-diam masuk ke ruang kelas setiap saat untuk melihat apa dan bagaimana yang sedang diajarkan. Yang menggelikan, saya perhatikan bahwa biarpun pintu dibiarkan terbuka, tapi tidak ada seorang pun yang pergi ke kelas dan mengamati rekan mereka.

Setelah beberapa bulan saya menyarankan lagi untuk meminta masukan dari para mahasiswa melalui perwakilan yang ditunjuk kelas. Kali ini tidak ada penolakan. Saya dapat melihat bahwa para guru cemas tapi tidak membantah. Kemudian, saya mengundang para mahasiswa dari dewan untuk meminta masukan secara tertulis tentang masing-masing kelas. Saya memastikan bahwa mereka mengerti untuk tidak menyebutkan nama seseorang, tapi untuk membicarakan tentang kualitas yang mereka hargai dan hal apa yang mereka inginkan agar lebih diperhatikan oleh para guru. Bulan selanjutnya saya bersama-sama staf membagikan beberapa komentar yang dibuat para mahasiswa tapi tidak menyebutkan nama. Saya mengatakan bahwa salah satu dari kita menggunakan kata "omong kosong" terlalu sering di dalam kelas, dan para siswa merasa tidak nyaman dengan hal ini. Hal ini sungguh menjadi sebuah pertemuan yang penuh kejadian, karena para guru senang untuk mengetahui seberapa besar usaha mereka dihargai oleh para siswa dan bagaimana beberapa hal yang tidak mereka perhatikan tentang diri mereka disebutkan oleh para siswa; seperti sebuah senyuman, kebiasaan, penghargaan, dll. Dalam waktu 6 bulan, para guru dan mahasiswa merasa sangat nyaman dengan sistem baru dan dengan satu sama lain, dan semua orang menyadari tanggungjawab dalam tugas mereka masing-masing. Para guru secara umum menjadi lebih berhati-hati dalam penggunaan bahasa.

Saat ini telah berlangsung lebih dari 18 bulan saya menerapkan gagasan-gagasan baru setelah berinteraksi dengan mitra asing. Semua ini bermula dengan membuka pintu pemikiran kita dan membiarkan diri kita menjadi terinspirasi oleh pengalaman-pengalaman orang lain.

Dr. Roudaba Shuja, Kepala Sekolah, Sekolah Putri Pemerintah Federal, Humak, Islamabad. Beliau dapat di hubungi via: