Navigation

Home

About IDP Norway

Vision and Mission

Field of Work

Country Experience

Organisational Structure

Publications

• Compendia

Links

Contact

EENET Asia

ILFE Toolkit: Afghanistan

ILFE Toolkit: Indonesia

EENET asia Newsletters : Edisi 9

Mewujudkan Pendidikan Inklusif Melalui Sekolah Ramah Anak - Bagian 2/2

Sheldon Shaeffer

III. Pendidikan Inklusif: Bagaimana melakukannya?

A. Kebutuhan untuk "merestruktur" sistem, kebijakan dan strategi pendidikan.
Seharusnya saat ini sudah jelas bahwa "kegagalan untuk mengatasi kesenjangan, stigmatisasi, dan diskriminasi yang berhubungan dengan kesejahteraan, gender, etnis, bahasa, disabilitas menahan laju perkembangan menuju Pendidikan untuk Semua" Mengatasi masalah ini membutuhkan komitmen yang kuat dan juga membutuhkan sumber daya keuangan yang lebih untuk sebuah pendidikan yang inklusif dan tanggap bagi semua pelajar.

Tapi pendidikan inklusif menunjukkan tidak hanya sekedar bermain-main dengan sebuah sistem pendidikan tetapi memperlihatkan beberapa penyesuaian terhadap sistem pendidikan kesempatan. Melainkan fokusnya adalah pada "perubahan sistem pendidikan dan sekolah dengan demikian mereka dapat melayani kebutuhan pembelajaran siswa yang beragam karena latar belakang sosial dan budaya serta karakteristik individu dalam hal motivasi, kemampuan, gaya dan irama dalam belajar. Menurut perspektif ini, bukan para siswa yang terdaftar di sekolah yang harus menyesuaikan pendidikan yang ada tersedia saat ini, melainkan sekolah yang harus disesuaikan pada kebutuhan setiap siswa, karena semua siswa beragam. "Dengan kata lain, "perjalanan menuju inklusi bukan hanya sekedar sebuah perubahan teknis atau organisasi tetapi juga sebuah pergerakan dengan filosofi yang jelas."

Hal ini memiliki beberapa implikasi terhadap sistem pendidikan di seluruh dunia:

B. Kebutuhan untuk merestrukturisasi bagaimana pendidikan tersedia pada tingkat sekolah dan masyarakat: sekolah ramah-anak

Mendukung keberagaman tanggapan, pendidikan inklusi juga dan bahkan mungkin lebih membutuhkan sebuah restrukturisasi tentang bagaimana pendidikan tersedia pada tingkat sekolah dan masyarakat. Maksud esensinya adalah mengembangkan sekolah yang berkualitas baik yang inklusif dan ramah-anak dan tidak hanya berpusat pada anak secara harafiah tapi juga mencari anak, yang secara eksplisit mencari anak-anak yang tidak bersekolah dan mendaftarkan mereka, memberi perhatian khusus pada anak-anak yang tidak belajar di kelas, oleh karena itu personalisasi pendidikan sehingga semua anak dapat mendaftar dan belajar.

Asumsi umum yang terjadi pada era tahun 1970 dan 1980 adalah jika sebuah sekolah dibangun, maka anak-anak akan berdatangan ke sekolah itu. Dengan demikian banyak sekolah dibangun - ribuan, sebagai contohnya melalui program pembangunan sekolah masal di Indonesia tapi banyak anak tetap tidak mendaftar. Selanjutnya, perspektif paska-Jomtien menyadarkan bahwa sekolah harus menarik haruslah berkualitas dan berhubungan dengan daerah setempat dan kemudian, tentu saja, anak-anak akan datang. Yang telah dilakukan ini mengarah pada pendaftaran yang lebih banyak, tapi tiga persen terakhir (atau lima atau sepuluh) tetap tidak mendaftar - sebuah angka seringkali diabaikan oleh kementerian pendidikan yang lebih suka untuk berfokus pada peningkatan RPM daripada jumlah pasti dari anak-anak yang tetap tidak bersekolah. Pandangan paska-Dakar, diperkuat oleh penilaian dari dekade pertengahan dari PUS, sekali lagi mengubah fokus; sistem pendidikan dan khususnya sekolah haruslah benar-benar inklusif, secara lebih aktif mengidentifikasi anak-anak yang tidak di sekolah dan mendaftarkan serta mengajar mereka, dan dalam prosesnya, menyesuaikan sekolah pada kebutuhan individu anak daripada anak-anak pada kebutuhan sekolah.

Tapi dapat dikatakan bahwa kebanyakan guru lebih memilih kelas yang kecil dan seragam - tidak terlalu ada perbedaan dalam hal usia, status sosial-ekonomi, bahasa, kemampuan, dll. Jadi, mereka puas dengan murid-murid yang secara "sukarela" bersekolah, dan mereka seringkali memiliki sedikit minat, atau rasa tanggungjawab terhadap anak-anak yang tidak terdaftar di sekolah dan yang "berbeda". (Hal yang sama, tentu saja, bagi banyak orangtua dari anak-anak yang "normal" yang tidak ingin kualitas sekolah tercampur oleh peserta didik dengan disabilitas atau dari golongan miskin atau dari kasta yang lebih rendah, atau anak-anak mereka "terancam" oleh mereka yang terdampak oleh HIV/AIDS.) Dengan cara yang sama, seperti yang telah kita lihat, sekolah juga cukup baik dalam "menyingkirkan" banyak siswa "berbeda" yang terdaftar di sekolah (dan mengatakan mereka "putus sekolah") - dengan menggunakan bahasa yang tidak banyak dimengerti, dengan menetapkan biaya dan atau beban lainnya yang terlalu tinggi, dan dengan membesar-besarkan sedikit kekurangan menjadi sebuah kecacatan yang besar.

UNICEF telah banyak mengembangkan model sekolah ramah-anak, tapi berbagi karakteristik dengan model lain yang memperhatikan hasil lebih dari sekedar efektifitas akademik dan pengukuran prestasi siswa. Sebuah sekolah seharusnyalah, tentu saja, menjadi efektif dalam membantu anak belajar tentang apa yang mereka inginkan, dan butuhkan untuk belajar. Tetapi harusjuga demokratis; melindungi dan sehat bagi anak-anak (baik kesehatan fisik dan psikologis mereka); peka terhadap isyu gender; menerima partisipasi para siswa, orangtua, dan masyarakat dan di atas semua itu, inklusif.

Menjadi inklusif, harus: (1) tidak mengecualikan atau diskriminatif terhadap dasar perbedaan; (2) menyediakan pendidikan yang gratis dan wajib, terjangkau dan dapat diakses; dan (3) menghargai dan meyambut keragaman dan meresponnya sebagai sebuah kesempatan dan bukannya sebagai sebuah masalah. Hal ini memiliki beberapa implikasi terhadap apa yang harus dilakukan sekolah ramah-anak:

Restrukturisasi, tentu saja lebih dari tentang lingkungan dan arsitektur. Bagi persoalan seluas dan sedalam pendidikan inklusif, kebutuhan akan sebuah pendekatan terhadap seluruh sekolah untuk berubah adalah penting. Paling tidak, hal ini melibatkan aspek-aspek berikut:

Sebuah sumber penting untuk perencanaan tingkat sekolah dalam inklusi adalah indeks inklusi: mengembangkan pembelajaran dan partisipasi di sekolah yang membantu sekolah secara sistematis meninjau kembali semua aspek kebudayaan, kebijakan, dan praktek mereka yang berhubungan dengan pendidikan inklusi. Saat ini diadaptasi untuk digunakan di lebih dari 25 negara dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 20 bahasa, indeks mengangkat sebuah penelusuran yang rinci dari apa itu nilai, seperti menghargai keragaman, keadilan, masyarakat dan peran serta, yang berarti bagaimana pendidikan dilaksanakan di dalam ruang kelas, sekolah, rumah dan masyarakat. Now adapted for use in over 25 countries and translated into over 20 languages, the Index promotes a detailed investigation of what values, such as respect for diversity, equity, community, and participation, mean for how education is provided in classrooms, schools, homes, and communities.

Satu kalimat penting untuk program pedndidikan anak dini usis (PADU). Kenyataan berlanjut meningkat: sebuah program PADU yang berkualitas baik yang tidak hanya penting bagi anak-anak usia muda (menuju kesehatan dan nutrisi yang lebih baik serta perkembangan kognitif yang lebih kuat) dan peran mereka sebagai orang dewasa di masa datang (pekerjaan yang lebih baik, tidak bergantung pada sistem kesejahteraan sosial, mengurangi keterlibatan dalam perkara pidana, dsb.), tapi juga baik bagi anak-anak sebagai pelajar di masa depan. Anak-anak dengan PADU/pra-sekolah memperlihatkan lebih banyak yang mendaftar sekolah, sedikit yang putus sekolah atau harus mengulang, berprestasi lebih baik, dan lebih jauh maju dalam pendidikan dibanding dengan anak-anak yang tidak mengalami hal tersebut.

Program demikian khususnya penting dalam pencapaian pendidikan inklusif. Hal ini sebagian karena manfaat kesehatan, nutrisi, dan pengembangan program-program seperti itu namun juga karena mereka tidak terstruktur dan cukup informal sebagaimana aslinya menjadi lebih inklusif dalam keragaman (perbedaan bahasa, disabilitas) tetapi cukup terstruktur dan formal sehingga anak-anak itu (dan keluarga mereka) menjadi terbiasa dengan lingkungan yang seperti mereka temukan di sekolah. Dengan kata lain, anak-anak dari sekolah yang demikian lebih siap untuk sekolah (yang tentu saja, bukan berarti, bahwa sekolah tidak perlu untuk bersiap-siap, lebih inklusif bagi semua siswanya). Pengalaman PADU yang bermutu baik oleh karenanya adalah sebuah kemudi penting bagi sistem pendidikan yang lebih inklusif.

Tambahan 1: PUS dan Pengecualian di Asia Barat dan Selatan
Lebih jauh, mungkin, dibanding bagian lain di wilayah Asia Pasifik, mereka yang tersisihkan dari pendidikan di Asia Selatan dan Barat kebanyakan adalah justru yang menjadi bagian yang lebih luas dalam ekonomi, sosial, etnik/linguistik, dan/atau kelompok agama yang dalam pendidikan dirugikan. Hal ini sering mengarah pada penciptaan sejumlah sistem pendidikan parallel yaitu sistem umum - sering berupa kualitas yang meragukan untuk sebagian besar pelajar; sistem privatisasi yang mahal bagi golongan perkotaan elit; sistem yang dikelola oleh LSM - organisasi berbasis masyarakat, dan kelompok etnik atau agama, dengan beragam kualitas (dari yang sangat miskin sampai dengan sistem besar seperti yang dikelola oleh BRAC di Banglades); dan sejumlah peningkatan sekolah swasta, dan yang berorientasi keuntungan yang sering berjanji (tapi tidak dapat memberikan) berbahasa Inggris dan pendidikan berstandar internasional bagi kelas menengah bawah dari daerah - dengan kata lain, sama sekali bukan sebuah sistem yang komprehensif, terkoordinasi, dan memiliki kendali mutu.

Kelompok yang paling tersisihkan dari beberapa pendidikan, atau dari sebuah pendidikan yang minimal dapat diterima dalam segi mutu, umumnya memiliki ciri sebagai berikut:

Hasil dari berbagai faktor eksklusioner penting: tingginya angka rata-rata tidak atau putus sekolah (dalam 2006, 13% siswa sekolah keluar sebelum akhir kelas pertama dan 28% remaja tidak bersekolah) dan meskipun kemajuan yang cukup dalam pencapaian PUS, angka rata-rata pendaftaran pada setiap tingkatan dari sistem tetap rendah. Di Asia Selatan dan Barat sejumlah 25% dari total global populasi tidak bersekolah.Terutama yang mengkhawatirkan adalah survei rumahtangga menunjukkan data saat ini secara serius meremehkan ukuran masalah - mungkin 16 juta kasus dari India.