Navigation

Home

About IDP Norway

Vision and Mission

Field of Work

Country Experience

Organisational Structure

Publications

• Compendia

Links

Contact

EENET Asia

ILFE Toolkit: Afghanistan

ILFE Toolkit: Indonesia

EENET asia Newsletters : Edisi 9

Meningkatnya Tekanan pada Anak-anak di Sekolah-sekolah Dasa

Sabrina Kang Holthe

Berjuta-juta anak di seluruh Asia bersekolah di sekolah swasta. Secara tradisi kebanyakan sekolah swasta telah menjadi sekolah elit bagi golongan kaya dan kaum penguasa. Namun hal ini berubah secara cepat. Saat ini semua lapisan masyarakat mengirim anak-anak mereka ke sekolah swasta. Banyak alasan; dalam beberapa kasus orangtua mereka terlalu miskin untuk mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah umum pemerintah yang meskipun “gratis” sering memiliki biaya tersembunyi yang tinggi (seperti: buku, seragam, dan transportasi); dalam hal lain sekolah swasta menawarkan sebuah kurikulum berbasis agama yang menarik bagi banyak orangtua; mereka mungkin juga menawarkan penggunaan bahasa pengantar yang berbeda dengan sekolah umum pemerintah, atau; mereka menawarkan sebuah pedagogi yang berbeda yang “menjanjikan” para orangtua bahwa anak-anak mereka akan berhasil dalam persaingan yang semakin ketat dalam dunia kerja dan kemakmuran jika anak-anak belajar di sekolah mereka daripada di sebuah sekolah umum pemerintah. Ini adalah kisah dari seorang ibu di Indonesia:

“Saya mempunyai seorang anak perempuan berusia 7 tahun. Dia saat ini berada di kelas 1 di sebuah sekolah dasar (SD) swasta di Jakarta. Dia harus menghadapi ujian akhir pada minggu ke-3 bulan Mei. Ketika saya bertanya padanya tentang bagaimana perasaannya tentang hal ini, dia berkata bahwa dia merasa sedikit gugup dan berharap dia akan memiliki waktu yang lebih untuk mempersiapkan segalanya. Untungnya, dia tidak memiliki masalah berhadapan dengan tugas-tugasnya di sekolah. Namun ketika saya berpikir tentang teman-temannya dan beberapa dari siswa lain yang mungkin perlu berjuang dalam belajar saya merasa sedih. Saya lalu berbicara dengan beberapa teman-temannya tentang hal ini, dan inilah yang mereka katakan:

Beberapa dari mereka berkata bahwa mereka merasa gugup dan khawatir, dan mereka berharap diberi waktu lebih untuk belajar lagi pada beberapa mata pelajaran sehingga mereka dapat mempersiapkannya dengan lebih baik. Sementara anak-anak lain merasa cemas jika mereka tidak dapat memperoleh hasil yang memuaskan dalam ujian, ada juga beberapa dari mereka berkata bahwa mereka tidak peduli sama sekali.

Ketika saya bertanya pada anak-anak ini tentang bagaimana perasaan mereka untuk tinggal di sekolah setiap hari selama beberapa jam lamanya untuk belajar, mereka berkata bahwa waktu untuk tinggal di sekolah sedikit terlalu lama, berbeda dengan waktu ketika mereka masih berada di Taman Kanak-kanak (TK). Mereka berkata bahwa mereka sedikit lelah meskipun mereka tahu bahwa menjadi siswa di SD memiliki tanggungjawab yang lebih dibanding ketika mereka berada di TK. Mereka berkata bahwa mereka menikmati bersekolah hanya kadang-kadang mereka merasa bosan dengan segala rutinitasnya.

Saya memutuskan untuk mendiskusikan hal ini dengan orangtua lainnya, khususnya tentang jam sekolah. Kebanyakan dari mereka merasa hal ini sedikit terlalu lama untuk anak-anak mereka yang masih kecil, TAPI mereka tidak merasa bahwa mereka dapat berbuat banyak tentang hal ini karena hal ini umum terjadi pada hampir setiap sekolah swasta saat ini, khususnya di kota-kota besar. Ketika saya bertanya pada orangtua murid yang lain tentang tes masuk sekolah, jawabannya juga serupa; bahwa hampir setiap sekolah swasta saat ini menilai atau menguji setiap anak yang hendak memasuki SD mereka khususnya bagi anak-anak yang tidak melanjutkan dari TK mereka sebelumnya. Berkenaan dengan Ujian Akhir bagi siswa kelas 1 SD, mereka berkata bahwa mereka juga merasa tidak dapat berbuat apa-apa karena ini terjadi di hampir setiap sekolah dan tidak hanya di sekolah swasta tapi juga di sekolah umum pemerintah, walaupun mungkin ada perbedaan dalam hal penggunaan materi dalam ujian.

Kemudian saya bertemu dengan wali kelas anak saya untuk mendapatkan beberapa jawaban dan dia memberikan jawaban yang lebih kurang sama dengan yang diberikan oleh para orangtua. Mereka tahu bahwa hal ini berat bagi murid-murid mereka, namun hal ini penting bagi manajemen sekolah karena hal ini dapat mempengaruhi prestasi belajar dari para muridnya dan peringkat sekolah mereka dibanding dengan sekolah lainnya.

Ini adalah sebuah dilema besar bagi Pendidikan Dasar di Indonesia dimana peraturan standar tentang bagaimana pendidikan yang ramah-anak harus diterapkan masih tetap tidak jelas dalam kurikulum sekolah, khususnya bagi anak-anak dalam tahun-tahun awal mereka di SD.

Dalam kasus dimana anak-anak pra-sekolah, belum matang dan rentan, mereka seharusnya diberi waktu untuk belajar berdasar kemampuan dan kapasitas mereka dengan cara bermain dan bereksplorasi. Dengan cara ini mereka dapat berkembang secara alami pada fase pertumbuhan mereka baik secara fisik, akademik, sosial dan emosional. Namun di sisi lain, tuntutan dari masyarakat (dan persaingan orangtua dan sekolah) seringkali memaksa mereka untuk fokus terlalu dini dalam perkembangan ketrampilan akademis mereka. Inilah mengapa semakin banyak sekolah TK mulai mengajarkan anak-anak mereka ketrampilan akademis pada usia yang masih sangat dini.

Saya pikir ini adalah sebuah tantangan besar bagi pemerintah kita tentang bagaimana mereka mengawasi dan mengevaluasi apakah pelaksanaan kurikulum dasar telah dilakukan dalam cara yang sesuai sehingga hak setiap anak dapat dijaga.

Saya adalah ibu dari dua orang anak yang berharap bahwa cerita saya ini dapat dibaca oleh mereka yang bertanggungjawab pada sistem pendidikan nasional kita.

Kisah ini menyoroti kebutuhan untuk mengevaluasi kembali apa yang sering dianggap sebagai kualitas pendidikan. Perencana dan Manajemen Pendidikan seharus menyadari bahwa anak-anak harus diberi waktu dan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan lain selain kemampuan akademis pada tahun-tahun awal mereka dan bahwa dengan bermain sesungguhnya akan membantu kehidupan mereka di kemudian hari dalam hal perkembangan sosial, emosional, kognitif, dan fisik.

You can contact Ms. Sabrina Kang Holthe via email: