Navigation

Home

About IDP Norway

Vision and Mission

Field of Work

Country Experience

Organisational Structure

Publications

• Compendia

Links

Contact

EENET Asia

ILFE Toolkit: Afghanistan

ILFE Toolkit: Indonesia

EENET asia Newsletters : Edisi 9

Inklusi – Alat Perubahan dan Pengembangan di Lembata

Sylvia Djawahir

IDPN Indonesia bersama PLAN Indonesia telah bekerja sama di berbagai kegiatan sosialisasi dan pengembangan pendidikan inklusi di beberapa propinsi di Indonesia bagian barat sejak tahun 2006. Berdasarkan pengalaman dari Pulau Jawa, IDPN Indonesia dan PLAN mulai mensosialisasikan program pendidikan inklusi di timur Indonesia di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Lembata yang juga disebut Pulau Lomblen adalah Kabupaten baru yang didirikan pada tahun 1999. Merupakan salah satu kepulauan terbesar di Flores bagian timur yang mempunyai budaya yang memikat dan memiliki banyak pantai yang indah dan masih asli. Diujung selatan pulau ini sekitar 40 km dari Lewoleba kota terbesar yang merupakan ibukota Kabupaten Lembata terdapat desa Lamalera yang telah lama dikenal masyarakat nasional dan internasional dengan tradisi berburu ikan paus yang sudah dilaksanakan turun temurun selama berabad-abad. Pemburuan ikan paus ini dilakukan dengan cara yang masih sangat tradisional yaitu dengan hanya menggunakan tombak, tali dan perahu tanpa motor yang semuanya dibuat didesa setempat. Pulau ini juga termasuk salah satu asal tenun tradisional yang termasyur dan sering dianggap memiliki kekuatan spiritual dan simbolis yang besar. Hasil tenunan ini adalah bagian esensial untuk “harga pengantin wanita” yang disediakan oleh seorang pemuda dan keluarganya untuk mengikat calon pasangannya sebelum pernikahannya karena motif disetiap helainya mengandung arti tersendiri seperti identitas budaya dan warisan keluarga sang calon pengantin pria.

Lembata secara keseluruhan adalah daerah yang kering dan gersang dengan musim kemarau yang panjang selama hampir 8 bulan setiap tahunnya yang tidak jarang terjadi kebakaran lahan meskipun pertanian adalah tumpuan ekonomi masyarakatnya. Karena wilayahnya dibatasi lautan daerah ini sangat potensial dalam sektor kelautan, perikanan dan wisata. Serta juga sektor pertambangan yang meliputi puluhan ribu hektar yang mengandung emas dan tembaga. Tantangan terbesar yang dihadapi karena tidak adanya prasarana, sarana dan sumber daya manusia yang tepat maka kepulauan ini menjadi daerah yang masih terisolasi dan tertinggal dari kemajuan teknologi pada umumnya dan pendidikan pada khususnya. Kepercayaan masyarakat setempat dengan para leluhur mereka sangat kuat karena dengan menghancurkan tanah dan laut berarti memutuskan ikatan dengan para leluhur mereka yang selama ini menjaga hidup mereka. Untuk mencapai pulau ini dari luar wilayah Lembata hanya dapat dilakukan dengan melalui transportasi udara dan melalui laut.

Kami bertiga dari IDPN Indonesia serta didampingi oleh seorang teman dari Plan Indonesia wilayah Timur berangkat menuju Kupang ibukota propinsi Nusa Tenggara Timur dengan pesawat. Perjalanan ke Lembata pada saat itu ditempuh dalam waktu dua hari karena dari Kupang kami harus menginap semalam untuk melanjutkan penerbangan ke Maumere. Dengan menggunakan pesawat pagi ke Maumere kami berempat menyewa mobil ke Pelabuhan Larantuka untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kapal laut ke Lewoleba. Gunung berapi banyak terdapat di Pulau Flores. Kota Larantuka adalah ibu kota Kabupaten Flores Timur yang terletak di kaki gunung Mandiri. Perjalanan menuju Larantuka yang berada di timur Pulau Flores memakan waktu 4 jam. Jalan yang kami lalui kecil, berkelok-kelok dan berbatuan ini melalui pemandangan yang sangat beragam di kiri kanan jalan ada sawah, ada rumah penduduk serta pepohonan rindang bahkan pantai. Setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan akhirnya tiba di Pelabuhan Waibalun, Larantuka disiang hari. Perjalanan kami dengan kapal tergolong aman dari ombak karena pada musim angin pada bulan September sampai Januari dengan ombak besar mencapai 4 meter sering menunda kapal laut ini untuk berangkat bahkan kadang mereka harus berhenti untuk berlayar beberapa hari. Kolega dari Plan bercerita bahkan pada saat air tenangpun kadang terjadi pusaran air yang besar dan kuat ditengah laut yang berakibat kapal harus berhenti di pulau terdekat. Perjalanan yang menempuh hampir 5 jam ini tidak terasa karena jalur yang kami lalui mempunyai pemandangan yang sangat indah dan memukau serta di apit oleh dua pulau di sisi kiri dan kanannya.Setibanya di pelabuhan Lembata kami dijemput oleh pihak fasilitator setempat dan segera mencari apotik untuk membeli obat malaria untuk mengantisipasi kesehatan sebelumnya. Karena angka kesakitan penyakit Malaria masih umum di Indonesia bagian Timur.

Lokasi pelatihan terdapat di pusat kota di sebuah ruang pertemuan yang sederhana dan bersatu dengan tempat penginapan kami sementara peserta pelatihan total hampir 50 orang adalah kepala sekolah, guru, pengawas dan UPTD (unsur dari dinas pendidikan kecamatan) dari 6 SDN di Kabupaten Lembata. Kegiatan ini adalah kegiatan uji coba untuk mengenalkan para peserta gagasan pendidikan inklusif dan ramah anak, membahas kebutuhan mereka dan mendengarkan pandangan mereka tentang bagaimana menurut mereka dapat mengubah dan meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah mereka. Dari diskusi bersama peserta diketahui bahwa angka kekerasan dalam kelas cukup tinggi yang berasal dari guru ke murid bahkan antara murid itu sendiri. Para guru juga tidak segan memberi hukuman pukulan terhadap murid karena menurut mereka kebanyakan murid jera setelah itu.

Agenda utama dari kegiatan ini adalah menciptakan kepedulian pada pendidikan inklusif dan pendidikan yang ramah anak dan menyediakan bimbingan tentang bagaimana mengembangkan suatu lingkungan yang inklusif dan ramah terhadap pembelajaran di kelas dan sekolah. Sebagai tambahan menjelaskan landasan hukumnya dan tanggung jawab moral yang didasari oleh undang-undang nasional dan komitmen internasional diantaranya inisiatif PBB untuk Pendidikan Untuk Semua (PUS), Tujuan Pembangunan Milienium (MDG) dan Konvensi PBB mengenai Hak Penyandang Disabilitas. Kegiatan banyak melibatkan diskusi kelompok yang terdiri dari kepala sekolah, guru, pengawas dan Dinas setempat yang gunanya untuk menggali lebih jauh pengalaman mereka dalam menghadapi tantangan dengan fasilitas yang minim di kelas dan anak-anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam. Peserta juga diberi simulasi pembelajaran sebagai murid dengan kebutuhan khusus (seperti tunanetra, tunarungu dan anak hiperaktif). Dengan aktivitas tersebut peserta diberi ide tentang bagaimana gangguan tersebut akan berdampak pada akses fasilitas sekolah dan kesertaan mereka dalam kegiatan sehari-hari kecuali hambatan dibahas secara efektif dalam rangka memenuhi kebutuhan individu mereka. Peserta berganti-gantian menjadi murid, menjadi guru kelas serta orang tua murid bersangkutan dan diharapkan akan memberi cara pandang yang berbeda dari sudut pandang sebagai murid dan juga perubahan sebagai guru. Pada akhir kegiatan mereka telah mendapatkan pemahaman yang berharga dalam kehidupan orang lain, baik anak-anak penyandang cacat serta guru mereka. Peran permainan simulasi tersebut adalah sebagai pembuka mata bagi para peserta dan pelajaran yang baik dalam hal empati. Hal ini juga memberikan motivasi bagi para peserta untuk mulai mengurangi banyak hambatan belajar, perkembangan dan partisipasi yang ada di sekolah dan komunitas mereka.

Kami juga berkesempatan langsung mengunjungi beberapa sekolah peserta untuk melihat langsung proses kegiatan belajar dan mengajar. Sebagian besar sekolah berlokasi jauh dari rumah siswa didik. Banyak siswa harus berjalan kaki paling tidak 10 km. Gambaran tersebut seketika hilang setelah kami tiba di sekolah pertama dengan sambutan anak-anak yang ceria mengikuti kami sampai ke ruangan kepala sekolah. Sekolah-sekolah di Lembata mempunyai dinamika yang unik dan yang juga penting harmonisasi hubungan dengan adat istiadat dan masyarakat sangat baik. Salah satunya kegiatan di sekolah sebelum masuk ke kelas masing-masing mereka mengadakan doa bersama menurut agamanya dalam kelompok-kelompok yang biasanya dilakukan di pagi hari. Anak-anak terlihat membuat dua kelompok yaitu kelompok untuk berdoa secara Islam dan kelompok untuk berdoa secara Kristen. Keunikan lain adalah dengan jumlah kecamatan di kabupaten Lembata mereka mempunyai bahasa lokal masing-masing yang hampir tidak dapat dimengerti satu dengan lainnya. Komunikasi antara kelompok ini dengan kelompok pendidikan yang berbasis bahasa ibu merupakan isyu penting lainnya yang harus dibahas secara efektif untu memastikan bahwa semua anak mendapat akses terhadap pendidikan berkualitas.

Setelah dua tahun kegiatan ujicoba sosialisasi di 6 sekolah sukses dilaksanakan di wilayah Indonesia bagian timur kami meneruskan kegiatan tindak lanjut terkait di Lembata. Saat ini peserta berasal dari 10 sekolah (SD) yang tersebar di 8 kecamatan. Ke-10 sekolah akan menjadi sekolah rintisan yang inklusif dengan harapan para guru dan kepala sekolahnya akan menjadi “pelatih guru” untuk guru mereka lainnya di sekolah dan sekolah lain di kabupaten. Pelatihan TOT (Training Of Trainer) akan dilaksanakan dalam 5 kegiatan terpisah dalam kurun waktu 10 bulan dengan melibatkan seluruh stakeholder dari tingkat sekolah sampai dengan masyarakat. Masing-masing kegiatan lebih banyak fokus pada diskusi kelompok sebagai pendalaman setiap materi dari Tulkit ‘Merangkul Perbedaan – Tulkit untuk Mengembangkan Lingkungan Inklusif, Ramah Pembelajaran (Tulkit LIRP). Kegiatan mulai dari konsep Pendidikan Inklusif dan Ramah Anak dan dilanjutkan dengan bagaimana mengidentifikasi anak-anak dengan kebutuhan pembelajaran khusus dan melakukan asesmen secara fungsional, penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembalajaran) dan silabusnya, bagaimana membuat bahan presentasi untuk sosialisasi untuk guru, orang tua dan anggota masyarakat lainnya. Banyak perubahan besar dalam 2 tahun terakhir sejak kegiatan sosialisasi pertama yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten. Banyak sekolah direnovasi dan dibangun untuk menjadi lebih ramah anak. DPRD juga saat ini mendukung secara penuh inisiatif dan telah melakukan koordinasi dalam pelaksanan program serta dukungan dana dari Dinas Pendidikan Propinsi untuk pelaksanaan diklat-diklat lainnya dalam rangka pengembangan pendidikan inklusi. Kemajuan lain dapat dilihat dengan banyaknya jalan sudah beraspal, ruang-ruang pelatihan sudah ada dibeberapa lokasi serta transportasi ke Lembata saat ini sudah dapat dilalui melalui udara langsung dari Kupang ibukota propinsi setiap hari. Lembata telah membuat loncatan maju terhadap inklusi, terlihat jelas bahwa bibit pendidikan inklusif dan ramah anak yang ditanamkan pada tahun 2009 telah tumbuh dan berkembang ditanah yang subuh di sekolah dan masyarakat di seluruh kepulauan Indonesia Timur. Kemajuan ekonomi juga dapat diamati di Lembata sebagai akses ke bagian wilayah yang indah ini telah meningkat secara signifikan sejak kami datang pertama kali di tahun 2009. Saat ini Lembata dapat dijangkau langsung melalui udara setiap hari dari ibukota propinsi Kupang. Kami sedang berharap beberapa bulan kedepan terhadap kegiatan terkait. Kami percaya bahwa inisiatif ini akan membawa akses kepada pendidikan untuk semua (PUS) yang berkualitas apapun kemampuan, disabilitas, latarbelakang dan keadaan mereka dalam beberapa tahun kedepan Lembata dan kecantikan pantainya meskipun jauh dari Indonesia.

Ms. Sylvia Djawahir adalah Ketua Yayasan IDPN Indonesia. Beliau dapat dihubungi melalui: