Navigation

Home

About IDP Norway

Vision and Mission

Field of Work

Country Experience

Organisational Structure

Publications

• Compendia

Links

Contact

EENET Asia

ILFE Toolkit: Afghanistan

ILFE Toolkit: Indonesia

EENET asia Newsletters : Edisi 9

Apa yang Membuat Guru yang Baik: Ide Terbaik untuk Peningkatan Pendidikan Datang dari Para Pendidik Sendiri!

Omal Clare

Pengantar
Pelatihan guru terlihat sebagai sebuah hal yang agak teknis berfokus pada isi kurikulum dan metode pengajaran khusus. Yang intinya adalah sebuah profesi moral. Kebanyakan para guru ingin membuat perubahan positif pada kehidupan para siswanya. Memperbaiki kualitas dan persamaan, bukan hanya sekedar lulus ujian, dengan demikian adalah tugas penting bagi guru. Meskipun kualitas sering didefinisikan dalam hal prestasi akademis, mungkin lebih sulit dari apa yang dapat diukur dalam tes. Saat ini, seperti yang tertulis dalam tujuan Pendidikan untuk Semua, kualitas diberi makna yang lebih luas, mengakui hasil yang terukur dan tidak terukur, serta proses dimana pendidikan berlangsung. Apa yang terjadi di dalam ruang kelas harus diubah agar dapat menciptakan sebuah pengalaman perkembangan yang positip dan lebih inklusif bagi semua anak. Hal ini dengan demikian penting untuk merefleksikan peran dan tanggungjawab guru karena peran, perilaku dan metode mereka dapat meningkatkan atau menghambat kemampuan seorang anak untuk belajar secara efektif. Beberapa studi telah memberikan bukti bahwa investasi pada guru mungkin menjadi salah satu yang paling efektif dalam meningkatkan kualitas hasil pendidikan.

Keefektifan guru adalah faktor tunggal yang paling penting untuk mempengaruhi proses belajar. Studi telah menunjukkan bahwa 40 hingga 90% perbedaan dalam prestasi dapat dikaitkan dengan kualitas guru. Sementara saat ini perhatian diberikan kepada pendidikan calon guru, ada kebutuhan signifikan yang tidak terpenuhi bagi kelangsungan pengajaran profesional dan dukungan bagi para guru dan kepala sekolah yang sudah ada di sekolah-sekolah.

SNV (Netherlands Development Organisation) tidak bekerja secara langsung dengan sekolah tapi menghargai pentingnya yang mempengaruhi apa yang terjadi di dalam kelas. Melalui mitra lokal seperti Transform-Uganda kerjasama positip dibentuk dengan the Primary Teaching College (Akademi Pendidikan Guru). Tujuannya adalah untuk mereformasi sistem pendidikan, serta mempersiapkan pendidik guru bagi peran dan tanggungjawab mereka di masa depan. Menjadikan guru sebagai alat perubahan dan pendidikan menjadi lebih adil dan relevan, rasa kepemilikan dan rasa pengertian sebagai bagian dari kebutuhan guru. Kepemilikan dimaksud tidak dapat dikembangkan melalui kebijakan kementrian dari atas ke bawah atau arahan. Lingkungan yang memungkinkan harus diciptakan bagi guru untuk berkembang dengan didasari profesional dan membangun ketrampilan dan pengetahuan yang telah ada, dan kemudian diidentifikasi, dibagikan, digunakan dan diintegrasikan dengan ide-ide pengajaran yang terbaik di lapangan. Guru perlu bekerja dengan rekan guru lain untuk belajar dari dan berbagi pengetahuan dan perkembangan ketrampilan dari sesama rekan, khususnya yang berhubungan dengan pengajaran beragam dan peserta didik yang kurang beruntung.

Dalam intervensi yang digambarkan dalam studi kasus, para guru diundang untuk menunjukkan komitmen mereka dan menjadi praktisi reflektif saat menerima dukungan profesional yang berlanjut. Ini tidak hanya tentang literasi dan numerasi, tapi juga tentang sebuah perubahan yang mendalam untuk menciptakan sebuah masyarakat yang adil dan inklusif, dimana pendidikan menjadi sarana untuk mencapainya.

Para guru dengan demikian belajar untuk merefleksikan praktek mereka dan mencoba metode pengajaran baru. Kepala sekolah belajar untuk menjadi mentor dan meningkatkan peran mereka dalam mendukung penerapan pengajaran dan pembelajaran yang lebih inklusif berdasarkan visi bahwa guru yang baik mengajar "seluruh anak". Visi pendidikan semacam ini tidak terbatas pada prestasi akademis yang nyata tetapi mencakup sebuah basis harian dari model kasih sayang, fleksibiltas, konsultasi, pemecahan masalah, menjadi pendengar, rasa humor, imajinasi dan keinginan untuk membuka pikiran.

Fokus Studi Kasus
Sebagai organisasi pengembangan kapasitas dan pengetahuan organisasi SNV dan Transform-Uganda bekerja di tingkat kabupaten dengan Primary Teaching Colleges, Dinas Pendidikan tingkat Kecamatan, para guru dan sekolah.

  1. Asesmen peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan menggunakan parameter yang berbeda. 2 set parameter yang paling sering digunakan adalah:
  2. Hasil/output (misal: hasil ujian) dan akibat (misal: kesempatan para siswa dapat mengakses pendidikan);
    Kualitas belajar dan relevansinya (misal: lingkungan, input dan proses)

Studi kasus ini berfokus pada parameter kedua untuk memastikan intervensi terbaik apa yang membantu peningkatan kualitas belajar dan mengajar, dibuktikan dengan penyelesaian yang lebih baik dan lebih adil.

Intervensi
Intervensi dari SNV dan Transform-Uganda dapat dikelompokkan menjadi 2 kategori:

  1. Peningkatan Kapasitas: bagi para guru dan anggota masyarakat misal: pada pengembangan sekolah ramah anak, pedagogi partisipasi anak, proyek pembelajaran sekolah-masyarakat.
  2. Pengembangan Pengetahuan: pada pendekatan belajar mengajar alternatif dan inovasi berbiaya rendah; pengajaran antar daerah dan sesama rekan; dokumentasi video dari proses perbaikan belajar-mengajar.

Proses dan Perkembangan
Proyek bantuan guru ini dilaksanakan untuk menanggapi kebutuhan dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para pendidik guru, kepala guru dan guru. Program ini terdapat di dalam kebijakan kerangka kerja ada di Undang-Undang pendidikan Uganda (the Uganda Education Act) (2008), Inisiatif Peningkatan Kualitas (Quality Enhancement Initiative) (QEI, 2008), Persyaratan Standar Dasar dan Minimal (Basic Requirement and Minimum Standards) (BRMS, 2009) dan program pelatihan calon guru yang telah ada. Menggunakan pendekatan yang berbeda seperti video dokumentasi, portofolio profesional dan belajar antar rekan telah terbukti menarik dan hasilnya dapat dilihat dalam periode waktu yang singkat.

Proyek tersebut membantu enam sekolah dasar (rintisan), secara potensial memberikan keuntungan pada hampir 50 guru dan lebih dari 2000 siswa. Setiap periode, Transform-Uganda mengunjungi sekolah-sekolah dan mencatat kegiatan belajar dan mengajar. Para guru dan siswa difilmkan dalam kegiatan kelas harian mereka. Video digunakan untuk sesi pelatihan bersama dengan melibatkan sekolah dan staf kolega pengajar tingkat dasar.

Selama seminar, pendidik guru, kepala sekolah, para guru dan jajaran dinas pendidikan kabupaten merefleksikan praktek belajar mengajar yang didokumentasikan dan diamati. Mereka bersama mengidentifikasi kekuatan dan kelemahannya (Analisa SWAT). Para guru memberi saran satu sama lain mengenai peningkatan yang layak dan masing-masing guru mengembangkan rencana tindakan tentang bagaimana mereka dapat meningkatkan praktek mereka sendiri, sementara kepala sekolah mempraktekkan ketrampilan pembinaan mereka. Klip video juga digunakan untuk pelatihan calon guru.

Video dari tahap yang berbeda dibandingkan untuk dapat memonitor proses dan perkembangan profesional, yang telah terbukti sangat memotivasi. Kepala sekolah dan para guru dalam proyek menjadi praktisi reflektif dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti “Perbedaan apa yang dapat saya perbuat sebagai seorang guru?" Proyek mendorong para guru untuk berbagi dan belajar bersama, tidak hanya tentang mengajar literasi dan numerasi, tapi juga tentang bagaimana memperbaiki pengajaran sosial dan emosional dan menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak.

Setelah seluruh seminar para guru memilih metode mana yang akan mereka praktekkan dan saring lebih jauh untuk memperbaiki pengajaran siswa dengan fokus khusus pada peserta didik yang kurang beruntung. Penerapan teknik belajar yang baru selalu berdasarkan pada ruang kelas dan realitas sekolah yang dihadapi para guru Uganda dalam bentuk sumber daya manusia dan keuangan, rasio guru-siswa, dan ketersediaan bahan belajar-mengajar.

Hasil-hasil
Seorang guru yang efektif dan termotivasi yang hadir setiap hari adalah jaminan terbaik dari pendidikan berkualitas. Kesempatan bagi praktek reflektif dan dukungan antar rekan yang diciptakan oleh proyek telah membuahkan hasil lebih banyak permohonan dari para guru akan kebutuhan pelatihan. Mereka mengalami bagaimana pelatihan diadakan dan mengakui pengetahuan dan ketrampilan mereka, sambil terus mengembangkan efektivitas profesional. Hal ini membuat karier pendidik guru, kepala sekolah dan guru terus belajar. Guru yang berpartisipasi menyatakan bahwa kebutuhan dasar pengembangan profesi tidak hanya memperbaiki performa profesional tapi juga meningkatkan motivasi.

Dokumentasi video dan seminar terkait telah membuktikan adanya peningkatan proses belajar-mengajar. Namun, perubahan praktek di dalam kelas seperti yang diamati dalam video antara lain diferensiasi, tim pengajar, interaksi belajar-mengajar, tanggapan remediasi dini bagi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar, peningkatan perhatian bagi perkembangan sosial dan emosional anak, dan menggunakan alat bantu belajar-mengajar buatan sendiri dan yang berbiaya rendah akan memerlukan banyak waktu dan mengkonsolidasi dukungan terus.

Namun peserta guru harus mulai untuk berbagi pengalaman mereka dengan sekolah lain.

Dampak dan Peluang untuk Pengukuran
Guru dapat membuat sebuah pertimbangan kontribusi bagi perwujudan dari tujuan Pendidikan Untuk Semua, khususnya yang berhubungan dengan kualitas dan persamaan peserta didik, lingkungan belajar, isi pengajaran, proses dan hasil belajar. Investasi dalam membangun kapasitas guru oleh karenanya berpengaruh terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pendaftaran, retensi, pengalaman pendidikan yang berarti dan hasil belajar yang berkualitas.

Pelajaran Yang Diterima

  1. Umpan balik dan dukungan sesama rekan, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan serta penyediaan pelatihan kebutuhan dasar, menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif bagi perkembangan profesi lanjutan sementara itu pendidik guru dan para guru bekerja sebagai sebuah tim kerja. Ketika guru melihat dan dikenal karena perubahan profesional mereka, mereka menjadi antusias dan lebih ingin untuk meningkatkan diri.
  2. Kepemimpinan sekolah adalah penting dalam meningkatkan kualitas belajar-mengajar. Memperkuat kapasitas kepala guru, tidak hanya dalam hal manajemen dan kepemimpinan, tapi juga dalam dukungan profesional bagi guru sangatlah penting
  3. Ada kebutuhan yang mendesak bagi staf lapangan dan inspektur kabupaten dari Primary Training College untuk bekerja sama. "Inspeksi" bukanlah sebuah cara efektif untuk meningkatkan kualitas karena hal ini tidak memiliki pengaruh pada proses yang menyebabkan hasil yang rendah dalam urutan pertama. Perbaikan nyata dan terus menerus terjadi hanya ketika para guru dan kepala guru mempelajari praktek mereka dan apa yang dihasilkannya. Sebuah sistem pertanggungjawaban guru diperlukan yang juga menyediakan mekanisme bagi peningkatan, tidak hanya sarana inspeksi dan sortasi.

Ms. Omal Clare, Manajer Pendidikan pada Transform Uganda di Kumi. Ia dapat dihubungi melalui email: